Industri game China kembali mencatat tonggak penting. Untuk pertama kalinya, pendapatan tahunan pasar game di Negeri Tirai Bambu berhasil menembus angka US$50 miliar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa China masih menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam industri gaming global.
Berdasarkan riset Niko Partners, pendapatan pasar game China dari platform PC, mobile, dan konsol mencapai US$51,8 miliar pada 2025, atau sekitar Rp70,2 triliun. Angka tersebut meningkat 5,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini sekaligus memperlihatkan bahwa ekosistem gaming China tidak hanya bertumpu pada satu platform. Mobile, PC, dan konsol sama-sama berkontribusi dalam mempertahankan momentum industri.
Pendapatan Pasar Game China Diprediksi Terus Naik
Niko Partners memperkirakan tren positif tersebut masih berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2026, pendapatan pasar game China diproyeksikan mencapai US$53,9 miliar, naik sekitar 4% secara tahunan.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, nilainya setara dengan sekitar Rp73 triliun. Sementara itu, pada 2030, pendapatan pasar gaming China diperkirakan mencapai US$59,8 miliar atau sekitar Rp81 triliun. Niko Partners memperkirakan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR 2025–2030 sebesar 2,9%.
Menariknya, proyeksi terbaru tersebut telah direvisi naik dibandingkan perkiraan yang diterbitkan Niko Partners pada November 2025. Salah satu faktor pendorongnya adalah performa kuat dari game-game baru serta judul live-service yang mampu mempertahankan pemain dalam jangka panjang.
Jumlah Gamer China Bisa Capai 769 Juta
Besarnya nilai industri tentu tidak terlepas dari jumlah pemain yang sangat besar. Niko Partners memperkirakan jumlah gamer di China dapat mencapai 769 juta orang pada 2030. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya basis pengguna yang tersedia bagi pengembang dan penerbit game. Selain menjadi pasar domestik yang besar, China juga memiliki sejumlah perusahaan game yang produknya telah berkembang ke pasar internasional.
Pertumbuhan tersebut membuat persaingan untuk mendapatkan perhatian pemain semakin ketat. Pengembang tidak hanya perlu menghadirkan gameplay menarik, tetapi juga harus mampu membangun komunitas dan mempertahankan engagement dalam jangka panjang.
Video Pendek Jadi Sumber Utama Menemukan Game Baru
Salah satu perubahan menarik dalam perilaku gamer China adalah semakin besarnya peran platform video pendek sebagai media untuk menemukan game. Dalam survei Niko Partners, 41% pemain China mengatakan mereka menemukan game baru atau informasi terkait game melalui aplikasi video pendek.
Jika seluruh platform PC, mobile, dan konsol digabungkan, video pendek menjadi metode penemuan game yang paling banyak digunakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi game kini tidak selalu dimulai dari iklan tradisional atau toko digital. Potongan gameplay, video lucu, konten komunitas, hingga cuplikan dari streamer dapat menjadi pintu masuk pemain untuk mengenal sebuah game.
Bagi developer, kondisi tersebut membuat strategi pemasaran berbasis konten semakin penting.
Esports Juga Makin Banyak Diminati
Pertumbuhan industri gaming China turut terlihat dari meningkatnya keterlibatan pemain dalam esports. Tingkat engagement esports naik dari 46,5% pada 2025 menjadi 51,3% pada 2026. Angka ini tidak hanya menghitung penonton turnamen.
Niko Partners menggunakan definisi engagement yang lebih luas, termasuk bermain game esports, menonton kompetisi, maupun ikut berpartisipasi dalam pertandingan. Artinya, lebih dari sekadar menjadi penonton, semakin banyak pemain yang berinteraksi langsung dengan ekosistem esports. Kondisi ini dapat menjadi peluang tambahan bagi pengembang, penyelenggara turnamen, kreator konten, dan berbagai pihak lain dalam industri gaming.
Mini-Game Jadi Pilar Penting di Mobile
Sektor mobile juga mengalami perubahan menarik melalui pertumbuhan mini-game. Berdasarkan survei Niko Partners, sekitar 80% pemain China pernah memainkan mini-game. Lebih jauh lagi, pengeluaran untuk mini-game mencapai sekitar 20% dari total belanja game mobile di China.
Dengan jangkauan pengguna yang luas dan potensi monetisasi yang semakin besar, mini-game mulai memiliki posisi penting dalam ekosistem mobile. Format yang relatif mudah diakses membuat mini-game mampu menjangkau pemain yang mungkin tidak selalu menghabiskan waktu untuk memainkan game mobile berukuran besar.
Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa pasar mobile China semakin tersegmentasi dengan berbagai model permainan dan monetisasi.
Generative AI hingga Game Premium Jadi Tren Berikutnya
Untuk lima tahun mendatang, Niko Partners melihat sejumlah tren yang berpotensi membentuk industri game China. Salah satunya adalah integrasi generative AI dalam proses pengembangan game maupun pengalaman pengguna. Teknologi AI berpotensi digunakan dalam berbagai aspek, mulai dari produksi konten hingga fitur yang berinteraksi langsung dengan pemain.
Selain AI, pertumbuhan genre-genre niche juga diperkirakan berlanjut. Pembayaran di luar aplikasi atau out-of-app payments turut menjadi area yang berkembang, sementara pengeluaran untuk game PC dan konsol premium diprediksi meningkat.
Niko Partners juga melihat kondisi regulasi yang semakin membaik sebagai salah satu faktor pendukung pertumbuhan industri.
Tantangan Datang dari Infrastruktur AI
Meski prospeknya positif, industri game China tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk AI. Permintaan terhadap perangkat keras AI memberikan tekanan terhadap pasokan memori dan semikonduktor. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat konsumen.
Jika harga perangkat gaming ikut terdampak, biaya untuk membeli PC, smartphone, maupun perangkat lainnya bisa menjadi lebih tinggi bagi konsumen. Dengan demikian, pasar game China memasuki fase pertumbuhan yang menarik. Pendapatan sudah melewati US$50 miliar, jumlah gamer terus bertambah, esports semakin aktif, sementara mini-game dan AI membuka peluang baru.
Namun, kemampuan industri untuk menjaga pertumbuhan tersebut akan sangat bergantung pada bagaimana developer dan publisher menghadapi perubahan teknologi, perilaku pemain, regulasi, serta tekanan rantai pasok perangkat keras.