Nigma Galaxy menjadi salah satu kejutan terbesar di The International (TI) 2026. Datang tanpa ekspektasi tinggi setelah melewati musim kompetitif 2025–2026 yang penuh gejolak, tim favorit penggemar ini justru berhasil menembus Playoffs dengan performa impresif.
Nigma Galaxy mengamankan tiket langsung ke Playoffs TI 2026 setelah mencatat rekor 4-1 di Group Stage. Hasil tersebut membuat perjalanan mereka berubah dari sekadar mencoba tampil maksimal menjadi salah satu kandidat kuda hitam yang patut diperhitungkan dalam perebutan Aegis of Champions.
Nigma Galaxy Datang Tanpa Beban
Duo support Nigma Galaxy, Maroun “GH” Merhej dan Omar “OmaR” Moughrabi, mengungkapkan bahwa mereka tidak memasang target berlebihan ketika datang ke TI 2026. Menurut GH, fokus utama tim hanyalah menjalani pertandingan satu demi satu dan memberikan kemampuan terbaik. Omar juga memiliki pandangan serupa. Ia mengaku tidak memikirkan apakah Nigma Galaxy akan mencatat rekor bagus atau buruk di fase grup.
Mentalitas tanpa beban tersebut justru menjadi salah satu kekuatan Nigma Galaxy. Mereka mampu tampil lepas dan perlahan membangun momentum hingga akhirnya menjadi salah satu tim yang mengejutkan di Group Stage.
Perjalanan Panjang Nigma Galaxy Menuju TI 2026
Optimisme terhadap Nigma Galaxy tentu tidak muncul begitu saja. Sebelum tampil mengejutkan di TI 2026, tim ini melewati periode yang cukup sulit. Setelah finis di posisi enam besar TI 2025, GH sempat meninggalkan kompetisi sementara dan Nigma Galaxy mencoba Tobias “Tobi” Buchner sebagai pengganti. Tim juga berpisah dengan Daniel Chan “Ghost” Kok Hong dan kemudian mendatangkan Aybek “TA2000” Tokayev.
Perubahan roster berlanjut hingga akhir 2025 dan memasuki 2026. Denys “Rincyq” Bohushev kemudian mengisi posisi carry, sementara pada Maret Nigma Galaxy kembali melakukan perubahan besar dengan melepas Sumail “SumaiL” Hassan.
Nigma Galaxy lalu mendatangkan Cedric “Davai Lama” Deckmyn dan menggeser Tony “No!ob” Assaf ke posisi mid lane. Namun, hasil yang didapat belum sesuai harapan.
Dalam langkah terakhir yang cukup berani, Nigma Galaxy kembali memanggil SumaiL, melepas Rincyq dan No!ob, serta merekrut Artem “Lorenof” Melnick sebagai mid laner. Keputusan tersebut ternyata memberikan dampak besar.
Delapan Kemenangan Beruntun Bawa Nigma ke Playoffs
Perjalanan Nigma Galaxy di Group Stage memang tidak langsung mulus. Mereka justru membuka kompetisi dengan kekalahan 0-2 dari Iron Wing. Namun, hasil tersebut menjadi titik balik. Nigma Galaxy kemudian mencatat delapan kemenangan beruntun dalam empat ronde berikutnya. Mereka berhasil mengalahkan sejumlah lawan kuat, termasuk OG, LGD Gaming, Vici Gaming, dan Team Spirit.
Kemenangan atas Team Spirit menjadi salah satu penampilan terbaik Nigma Galaxy. Kedua pertandingan berlangsung sangat panjang dan penuh tekanan. Game pertama berlangsung selama 59 menit, sedangkan game kedua mencapai 61 menit.
Dalam dua laga tersebut, Nigma Galaxy mampu bertahan dalam pertarungan late game dan mengalahkan salah satu tim yang dikenal kuat dalam permainan berdurasi panjang.
Mental Nigma Galaxy Semakin Matang
Salah satu perubahan terbesar Nigma Galaxy di TI 2026 terlihat dari kemampuan mereka menghadapi pertandingan penuh tekanan. Sebelumnya, Nigma Galaxy kerap kehilangan keunggulan setelah berada dalam posisi menang. Kesalahan di momen penting membuat mereka beberapa kali gagal mengamankan pertandingan.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. GH menyebut timnya berusaha meningkatkan kemampuan mengelola emosi ketika menghadapi situasi sulit. Fokus mereka adalah segera bangkit setelah mengalami masalah dan mengarahkan perhatian pada objektif berikutnya.
Omar juga menilai pemain harus mampu menjaga fokus serta menghindari keputusan berdasarkan emosi. Menurutnya, tim yang ingin menjadi juara harus mampu berpikir logis dan teknis, terutama ketika pertandingan memasuki fase penuh tekanan.
Lorenof Jadi Senjata Baru Nigma Galaxy
Salah satu pemain yang paling mencuri perhatian dalam perjalanan Nigma Galaxy adalah Artem “Lorenof” Melnick. Mid laner asal Ukraina tersebut tampil luar biasa ketika menghadapi Team Spirit. Lorenof menggunakan Ember Spirit dalam kedua pertandingan dan menjadi sumber kerusakan sekaligus pembuka peluang bagi Nigma Galaxy dalam teamfight.
Pada game pertama, Lorenof mencatat 12 kill dan 25 assist dengan tujuh kematian. Performa yang lebih spektakuler hadir pada game kedua ketika ia mengoleksi 22 kill dan 15 assist, dengan hanya lima kali terbunuh.
Performa tersebut membuat Nigma Galaxy mulai menjadikan Lorenof sebagai salah satu win condition dalam situasi tertentu. Omar mengakui tim harus menyesuaikan gaya bermain dengan karakter unik sang mid laner dan memastikan ia mendapatkan kondisi terbaik untuk berkembang. Sejauh ini, strategi tersebut terbukti efektif karena Lorenof mampu memberikan performa konsisten ketika mendapatkan ruang untuk bermain agresif.
SumaiL dan Lorenof Bawa Pengaruh Besar
Selain Lorenof, SumaiL tetap menjadi salah satu nama terbesar dalam roster Nigma Galaxy. Ia merupakan pemain yang mencatat sejarah sebagai pemain termuda yang pernah memenangkan Aegis of Champions ketika membawa Evil Geniuses menjadi juara TI 2015.
Kini, lebih dari satu dekade setelah kesuksesan tersebut, SumaiL kembali berada di panggung terbesar Dota 2. Bahkan, ia sempat mengisyaratkan kemungkinan pensiun setelah TI 2026.
Namun, GH dan Omar menilai kontribusi SumaiL serta Lorenof tidak hanya terlihat melalui statistik pertandingan. Kehadiran keduanya juga memberikan energi positif dan membantu menciptakan suasana tim yang lebih baik.
GH menilai keduanya memiliki kemampuan bermain di bawah tekanan, terutama dalam pertandingan LAN besar. Sementara Omar melihat kehadiran pemain berkualitas tersebut mampu memotivasi seluruh anggota tim untuk tampil lebih baik.
Mungkinkah Nigma Galaxy Menjadi Juara TI 2026?
Cinderella run Nigma Galaxy kini memasuki fase yang jauh lebih sulit. Mereka akan menghadapi Team Falcons, sang juara bertahan, pada upper bracket quarterfinals. Sebelum TI 2026 dimulai, Falcons tentu lebih diunggulkan. Namun, performa Nigma Galaxy sejauh ini membuat prediksi tersebut tidak lagi sesederhana di atas kertas.
Ada banyak cerita menarik di balik perjalanan mereka. GH dan Kuro “KuroKy” Salehi Takhasomi berpeluang meraih Aegis kedua, sementara Davai Lama dan Omar memiliki kesempatan membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di level juara.
Lorenof juga memiliki peluang mengubah statusnya dari pemain yang kerap menjadi pilihan sementara menjadi pusat dari tim yang mampu bersaing memperebutkan trofi terbesar Dota 2.
Bagi SumaiL, TI 2026 bahkan bisa menjadi kesempatan terakhir untuk kembali mengangkat Aegis of Champions. GH mengakui kemungkinan sang bintang pensiun justru memberikan motivasi tambahan untuk memenangkan turnamen bersamanya.
Nigma Galaxy memang masih harus melewati jalan panjang. Namun, melihat performa mereka di Group Stage, bukan tidak mungkin kisah Cinderella mereka berlanjut hingga perebutan gelar juara TI 2026.